KULIT TIPIS MENTAL BAJA
Dunia berada di dalam sebuah kotak kaca. Empat puluh hari lamanya, aku tidak mengenal sentuhan kulit ibu atau hangatnya pelukan ayah. Sebagai bayi prematur yang lahir dengan kondisi kulit yang sangat tipis, saya memiliki resolusi dari kerentanan. Dokter dan perawat bergerak dengan sangat hati-hati di sekitarku, seolah-olah embusan napas yang terlalu kuat pun bisa melukaiku. Namun, saat aku akhirnya diizinkan pulang, rumah yang menantiku bukanlah rumah yang utuh. Ayah dan ibuku harus pergi merantau jauh demi menyambung hidup, sebuah keputusan pahit yang memaksaku tumbuh besar tanpa kehadiran mereka di sisiku.
Aku diserahkan ke tangan Nenek, seorang misionaris yang teguh dan disiplin, yang tinggal di sebuah pastori Gereja GBKP di bawah Yayasan Sekolah Masehi. Masa kecilku tidak berwarna hijau seperti lapangan bola atau biru seperti langit tempat layang-layang terbang; masa kecilku berwarna putih seperti dinding rumah sakit. Hingga kelas 3 SD, agenda wajib bulanku adalah bertemu dokter untuk kontrol rutin. Jarum suntik dan bau alkohol menjadi teman akrab yang tidak bisa kuhindari. Nenek sangat menjagaku dengan ketat karena kulitku adalah harta yang rapuh. Saya dilarang bebas keluar rumah untuk bermain. Sinar matahari dianggap musuh, dan debu di jalanan dianggap ancaman. Aku hanya bisa memandang keluar jendela pastori, melihat anak-anak seusiaku berlarian dengan bebas, sementara teman mainku hanyalah kakak-kakak di asrama putri yayasan tersebut. Aku tumbuh dalam isolasi yang dipenuhi doa-doa, namun di dalam hati, ada kantuk yang terus tumbuh.
Ujian sesungguhnya dimulai saat aku menginjak bangku sekolah. Berangkat sekolah sendirian adalah hal yang biasa, tapi pemandangan di gerbang sekolah selalu menjadi belati yang menusuk hati. Setiap pagi, aku harus menyaksikan teman-temanku turun dari kendaraan, diantar dengan penuh kasih sayang oleh orang tua mereka. Pertanyaan "Kenapa aku harus jalan sendiri?" selalu menggema di kepalaku. Kerapuhanku secara fisik dan ketidakhadiran orang tuaku menjadi bahan empuk bagi para perundung. Mereka mengejekku sebagai anak yang tidak disayangi, anak yang dibuang. Kalimat itu jauh lebih berbahaya daripada jarum suntik dokter. Hampir setiap hari, aku pulang sekolah dengan mata sembab dan tangis yang pecah sepanjang jalan. Namun, sesampainya di rumah, aku harus menelan kembali semua kesedihan itu agar tidak terlihat lemah.
Tahun-tahun berlalu dalam keheningan, dan kesedihan itu perlahan-lahan berubah bentuk. Dari kelas 7 hingga kini aku menginjak kelas 11, ada sesuatu yang memaksa di dalam dadaku. Bukan menjadi balas dendam, melainkan menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan. Aku mulai menyadari bahwa semua pertunjukan itu tidak lagi membuatku gemetar. Rasa sakit karena ditinggalkan orang tua merantau justru membentukku menjadi sosok mandiri yang tidak bergantung pada belas kasihan orang lain. Kulitku mungkin masih sama—masih tipis dan sensitif—namun jiwaku telah ditempa dalam tanur ujian hidup yang sangat panas.
Kini, aku berdiri dengan tegak di bangku kelas 11 dengan kesadaran baru. Bulian yang dulu terasa seperti berhenti, kini hanya terdengar seperti angin lalu yang tidak punya kuasa untuk merubuhkanku. Ternyata, Tuhan punya cara unik untuk menempaku. Masa kecil yang suram di pastori dan koridor rumah sakit bukanlah kutukan, melainkan latihan bagi mentalku agar menjadi konser baja. Aku adalah bukti nyata bahwa seseorang yang lahir dengan kulit paling tipis sekalipun, bisa memiliki kekuatan batin yang luar biasa. Aku bersyukur atas segala air mata di masa lalu, karena tanpa semua itu, aku tidak akan pernah menjadi pribadi yang tangguh seperti sekarang. Aku adalah baja yang dibungkus sutra; aku merasakan segalanya dengan dalam, tapi tidak ada satu pun hal yang bisa mematahkan semangatku lagi.
Cerpenya menarik dan sangat memotivasi 🥰💪💪
BalasHapus